Sindikasi bola.okezone.com

sumber :-

Sindikasi bola.okezone.com


"Suarez Hampir Patahkan Kaki Saya"

Posted: 31 Oct 2012 11:40 AM PDT

LIVERPOOL - Cap pemain kotor nampaknya bakal terus melekat dalam diri Luis Suarez. Setelah sebelumnya disebut sering diving, kali ini Suarez disebut sebagai pemain kasar.

Pernyataan tersebut dilontarkan bek Everton, Sylvain Distin usai duel derby Merseyside yang berakhir 2-2. Suarez disebut Distin sebagai pemain kotor karena melakukan tekel keras kepadanya.

"Terima kasih atas perhatiannya. Engkel kaki saya baik-baik saja, meski bisa saja engkel saya patah (akibat tekel Suarez)," tulis Distin dalam akun twitternya usai pertandingan, seperti dikutip Goal, Kamis (1/11/2012).

Kekecewaan yang sama sebelumnya dilontarkan pelatih Everton David Moyes. Pelatih berkebangsaan Skotlandia itu bahkan menilai, Suarez seharusnya sudah mendapatkan kartu merah karena tekel brutalnya tersebut.

"Tekel itu terlalu tinggi. Suarez sangat beruntung bisa tetap berada di lapangan usai melakukan tekel itu," ujar Moyes kala itu.

Selain melakukan tindakan kasar, Suarez juga menebar kontroversi ketika merayakan gol pertama Liverpool. Bomber internasional Uruguay ini merayakan gol tersebut dengan melakukan gerakan 'diving' di depan David Moyes. Kuat dugaan, aksi tersebut dilakukan Suarez terkait komen Moyes yang meminta wasit lebih jeli dalam melihat insiden yang melibatkan Suarez. (acf)

Soal Pemanggilan Timnas, Pemain Pegang Kendali

Posted: 31 Oct 2012 11:03 AM PDT

MALANG - Keputusan bergabungnya striker senior Bambang Pemungkas ke Tim Nasional (Timnas) arahan Nil Maizar disebut sebagai perkembangan baru bagi persepakbolaan nasional. Perkembangan yang mengarah pada perbaikan kondisi sepakbola yang tak menentu pada tahun-tahun terakhir.

Sejumlah pihak mengatakan sudah saatnya pemain yang memegang kendali dan tidak hanya mengikuti nafsu para penguasa. Sebab sebenarnya kendali sepakbola nasional ada pada pemain sepenuhnya. Ketika pemain mengambil sikap, maka tidak ada yang bisa membendungnya.

Itu diungkapkan mantan pelatih asal Malang, Gusnul Yakin. Mantan pelatih Arema FC, Persik Kediri, serta Persibo Bojonegoro ini mengatakan pemain berhak dan bebas berlaga untuk bangsa jika kualitasnya memang dibutuhkan. Pilihan yang diambil Bambang menurutnya sebagai gambaran bahwa pemain sudah frustrasi.

"Mereka sudah frustrasi dan jengah dengan situasi sepakbola sekarang ini. Itu jelas sangat terlihat. Menurut saya pemain mempunyai pengaruh paling besar terhadap sepakbola sekarang. Jika pemain serempak bersikap, maka sebenarnya para penguasa tak bisa berbuat apa-apa," tutur Gusnul.

Hanya saja, belakangan pemain menjadi 'alat' bagi penguasa yang mengaku lebih sah menangani sepakbola. Pemain menjadi ajang mencari pengaruh dari dua kompetisi, yakni Indonesian Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL), hingga terciptanya dua timnas.

Bergabungnya Bambang ke timnas Nil Maizar diharapkan menjadi awal pupusnya persoalan dualisme timnas selama ini. Timnas, menurut pelatih yang musim lalu sempat menangani PSIS Semarang ini, sudah waktunya memikirkan persatuan tanpa memandang dari kompetisi mana pemain berasal.

"Kalau sudah ada pemain bergabung ke timnas, jangan lagi bicara lagi dari klub mana. Semua harus menghormati pemain sebagai wakil yang bertarung untuk bangsa. Kalau masih ada yang mempersoalkan keterlibatan seorang pemain di timnas karena perbedaan kompetisi, persoalan ini tak ada ujungnya," lanjut Gusnul.

Pendapat yang sama diutarakan pemain yang baru saja pensiun dari timnas, Bima Sakti. Pemain senior ini mengatakan tidak seorang pun berhak melarang atau mengeluhkan keputusan Bambang Pamungkas. Bergabung timnas merupakan hak setiap pemain yang dipanggil untuk membela negara.

"Saya yakin semua mendukung langkah Bambang untuk bergabung dengan timnas. Saya tak pernah meragukan dedikasinya untuk tanah air jika melihat sepak terjangnya selama ini. Bambang telah memilih, bahwa kepentingan bangsa semestinya memang menjadi nomor satu," kata pemain yang pernah menjadi langganan timnas ini.

Bima mengakui, ada perasaan tidak nyaman sekaligus gelisah melihat sepakbola nasional tak henti dirundung sengketa. Terutama dengan perpecahan kompetisi hingga dualisme PSSI, sebagai pemain dirinya merasa ada kemunduran begitu jauh dibanding dengan era sebelumnya.

"Semua pemain tentu tidak akan senang dengan kondisi ini. Jadi langkah yang ditempuh pemain seperti Bambang Pamungkas bisa menjadi titik awal memperbaiki situasi. Minimal kita sudah memulai bahwa tidak ada batas untuk pemain yang bergabung timnas," ujar kapten tim Persema Malang tersebut.

Hasil di Piala AFF 2012 nanti, bukan lagi menjadi pembahasan terpenting karena faktanya perbaikan sepakbola tanah air lebih menjadi prioritas. Jika memang nanti bisa berprestasi membanggakan di Piala AFF, maka itu bisa menjadi bonus bagi perjuangan pemain yang ingin memperbaiki sepakbola Indonesia. (Kukuh Setiawan/Koran SI/acf)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 ulasan:

Catat Komen