ANTARA - Olahraga

sumber :-

ANTARA - Olahraga


Raul sumbang bola gol ke-400 ke Museum

Posted: 13 Mar 2012 08:55 AM PDT

Berlin (ANTARA News) - Mantan penyerang internasional Spanyol yang bermain di Schalke 04 Raul menyumbangkan kaos dan bola gol ke-400 selama karir profesionalnya ke museum sepak bola Jerman.

Raul mencetak gol ke-400 itu pada 19 Pebruari saat timnya menang 4-0 atas Wolfsburg.

"Saya punya pengalaman bagus di Bundesliga dan saya sangat bangga dengan apa yang telah diperlihatkan para penonton Jerman kepada saya," kata Raul yang telah mencetak 33 gol sejak bergabung dengan Schalke pada musim panas 2010.

"Ini sungguh kehormatan luar biasa kepada sepakbola Jerman," kata Manuel Neukirchner, direktur museum yang akan dibuka pada 2014.

"Tempat ini sungguh akan menjadi tempat kehormatan," tambahnya.

Mantan pemain asal Spanyol berusia 34 tahun yang telah mencetak 323 gol bagi Real Madrid, dimana dia memulai karir profesionalnya pada 1994, dan ikut memenangi tiga kali Liga Champion.

Dia menambahkan 44 gol lainnya bersama timnas Spanyol dan 33 gol bagi Gelsenkirchen, demikian AFP.

(Uu.A020/Z002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Nadia terus berkarir di olahraga berkuda

Posted: 13 Mar 2012 08:06 AM PDT

Jakarta (ANTARA News) - Nama Nadia Marciano memang belum begitu populer sebagai atlet nasional, namun di kalangan komunitas berkuda, nama gadis berusia 28 tahun ini sudah cukup dikenal lewat prestasinya di tingkat nasional maupun internasional.

Atlet berkuda Nadia yang merupakan putri dari Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) dan Ketua Umum PBTI (taekwondo), Marciano Norman ini, nekat memutuskan melanjutkan studi pada jurusan Ilmu Administrasi Berkuda di William Woods University, di Fulton, Missouri, AS, pada 2003.

Melalui ilmu yang dia dapat saat sekolah di AS itu, Nadia pun tak ragu untuk memutuskan serius menangangi cabang berkuda ini sebagai masa depannya.

Peraih medali perak di kejuaraan berkuda Oman Championship di Muscat, Oman tahun lalu itu, mendirikan sekolah berkuda khusus bagi tingkat sekolah menengah umum (SMU) yang lantas diberi nama APM (Adria Pratama Mulya) Riding School di kawasan Tigaraksa, Tangerang, Banten pada 2006 setelah lulus dengan gelar Bachelor of Science pada 2005.

Nadia begitu bangga dengan sekolah berkuda yang sudah menelurkan banyak atlet berkuda berprestasi ini karena konsep sekolah ini sangat dekat dengan alam. Kelas belajar pun bisa diambil di luar kelas dan merupakan satu-satunya sekolah yang punya kurikulum berkuda yang menyertakan program pertukaran pelajar bagi siswa berprestasi.

"Saya mencintai olahraga berkuda sejak kecil. Sejak usia enam tahun saya sudah naik kuda sehingga saya sudah sangat yakin punya masa depan lebih baik dengan menggeluti cabang berkuda ini. Apalagi hingga bisa memiliki sekolah berkuda. Rasanya, prospek untuk itu sudah cukup baik," kata Nadia di sekolah berkudanya di kawasan Cikupa, Tangerang, Banten, Selasa.

Sejak 2011 sekolah berkuda APM ini sudah membuka pendaftaran angkatan pertama dengan memakai sistem asrama. Sekolah ini pun tercatat sebagai perintis sekolah berkuda di Indonesia.

Untuk lebih memasyarakatkan proyeknya itu, Nadia tidak segan melakukan "sosialisasi dengan melakukan "road show" ke beberapa sekolah menengah pertama di Jakarta dan Tangerang. Nadia sendiri tak ragu turun langsung sebagai pengajar bagi para siswanya.

Ditambah dengan prestasi yang dimilikinya, Nadia jadi makin percaya diri menghadapi setiap calon murid yang ingin belajar di sekolah APM.

Seluruh keluarga Nadia, baik ayahanda maupun ibundanya, Triwaty Marciano yang juga merupakan pendiri sekolah APM ini sangat mendukung karir putrinya pada olahraga berkuda ini.

Ketika Nadia menancapkan masa depannya pada sekolah berkuda yang ia dirikan, orangtuanya pun optimistis. Hingga kini, beberapa sekolah menengah pertama di Tangerang dan Jakarta masih punya jadwal melakukan kunjungan ke sekolah berkuda APM sehingga Nadia pun masih disibukkan dengan kegiatan kunjungan siswa ini. Nadia memang beruntung lahir dari keluarga yang sudah dekat dengan kuda.

Pengalaman Nadia pertama kali belajar menunggang kuda dengan benar, dirasakaan saat bergabung di klub berkuda Bala Turangga, karena kebetulan pada saat itu ayahnya menjadi wakil komandan di satuan tempat klub itu berada (Parongpong, Lembang Kabupaten Bandung), sehingga fasilitas yang ada memang benar-benar mendukung minat berkudanya.

Ketika keluarganya harus pindah ke Jakarta mengikuti dinas sang ayah, ibunya memasukkan dirinya ke Tridan stable, di kawasan Pulo Mas, Jakarta Timur.

"Di stable inilah saya mulai belajar menunggang kuda secara rutin dan pertama kali mengikuti lomba berkuda hingga bisa juara pada era 90-an," katanya.

Di usia 12 tahun, Nadia pindah ke klub Porda Pelita Jaya dan bertemu dengan almarhum Tenny Palandeng hingga belajar banyak mengenai horsemanship. Pada saat bersamaan Nadia diperbolehkan menaiki kuda paten, Arinda. Dengan kuda itu Nadia memenangi banyak kejuaraan, diantaranya juara di Pelita Harapan Cup dan BBD Cup.

Pada tahun 1996, Nadia bersama timnya (Rahmat Natsir dan Ferdinand) dipercaya untuk mewakili Indonesia di kejuaraan berkuda CSI-Y dengan menggunakan kuda pinjaman di Bangkok, Thailand. Nadia sukses mempersembahkan medali emas untuk kompetisi beregu dan perunggu untuk kompetisi individual.

Menurutnya, prestasi olahraga berkuda di Indonesia memang terus meningkat. Apalagi dengan raihan tiga medali emas pada SEA Games 2011 November lalu, Nadia pun makin yakin prestasi itu akan sangat berpengaruh pada sekolah kudanya.

"Harapan saya, dengan prestasi olahaga berkuda yang semakin meningkat, sekolah berkuda APM juga bisa semakin banyak peminatnya," kata wanita berkulit sawo matang ini penuh harap.
(T.A020/T009)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 ulasan:

Catat Ulasan